Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Sunday, 29 October 2017

Daftar Nama Anak Binatang Dalam Bahasa Jawa

Berupaya untuk membantu masyarakat mengingat dan mempelajari kembali bahasa Jawa yang sudah mulai terkikis oleh bahasa asing, kami sajikan daftar nama anak binatang dalam bahasa Jawa yang mungkin sudah terlupakan.


Nama-nama anak binatang ini juga merupakan salah satu materi pembelajaran Bahasa Jawa yang mungkin perlu diberikan pada peserta didik untuk memperkenalkan dan melestarikan bahasa daerah. Berikut ini nama-nama anak binatang yang familier dilihat dan dijumpai di lingkungan kita sehari-hari:
  1. Anak ampal jenenge embug.
  2. Anak angrang jenenge kroto.
  3. Anak asu jenenge kirik.
  4. Anak babi jenenge gembluk.
  5. Anak bandeng jenenge nener.
  6. Anak bantheng jenenge wareng.
  7. Anak banyak jenenge blengur.
  8. Anak baya jenenge krete.
  9. Anak bebek jenenge meri.
  10. Anak bethik jenenge menter.
  11. Anak blanak jenenge sendha.
  12. Anak brati jenenge tongki.
  13. Anak budheng/munyuk jenenge kowe.
  14. Anak bulus jenenge ketul.
  15. Anak cacing jenenge lur.
  16. Anak cecak jenenge sawiyah.
  17. Anak celeng jenenge genjik.
  18. Anak coro jenenge mendhet.
  19. Anak dara jenenge piyik.
  20. Anak dhorang jenenge tamper.
  21. Anak emprit jenenge indhil.
  22. Anak gagak jenenge engkak.
  23. Anak gajah jenenge bledug.
  24. Anak gangsir jenenge clondho.
  25. Anak garangan jenenge rase.
  26. Anak garengpung jenenge drungkuk.
  27. Anak gemak jenenge drigul.
  28. Anak glatik jenenge cecrekan.
  29. Anak gundik jenenge laron/rayap.
  30. Anak iwak jenenge beyong.
  31. Anak jangkrik jenenge cendholo.
  32. Anak jaran jenenge belo.
  33. Anak kadal jenenge tobil.
  34. Anak kakap jenenge caplek.
  35. Anak kalajengking jenenge ketupa.
  36. Anak kancil jenenge kenthi.
  37. Anak kebo jenenge gudel.
  38. Anak kecapung jenenge jenthit.
  39. Anak kemangga jenenge ceriwi.
  40. Anak kepik jenenge mreki.
  41. Anak kidang jenenge kompreng.
  42. Anak kimar jenenge kedah.
  43. Anak kinjeng jenenge senggutru.
  44. Anak kinjeng dom jenenge undur-undur.
  45. Anak kintel jenenge kenthus.
  46. Anak kethek jenenge kenyung.
  47. Anak kodhok jenenge precil.
  48. Anak kumbang jenenge engkuk.
  49. Anak kunang jenenge endrak.
  50. Anak kremi jenenge racek.
  51. Anak kucing jenenge cemeng.
  52. Anak keong/kul jenenge krikik.
  53. Anak kupu jenenge enthung/uler.
  54. Anak kura jenenge laos.
  55. Anak kutuk jenenge koncelan/kotesan.
  56. Anak kwangwung jenenge gendhot.
  57. Anak laler jenenge singgat/set.
  58. Anak lamuk/nyamuk jenenge jenthik.
  59. Anak lawa jenenge kampret.
  60. Anak lele jenenge jabrisan.
  61. Anak lemut jenenge uget-uget.
  62. Anak lintah jenenge pacet.
  63. Anak lisang jenenge beles.
  64. Anak lodan jenenge jengkelong.
  65. Anak lutung jenenge kenyung.
  66. Anak luwak jenenge kuwuk.
  67. Anak luwing jenenge gonggo.
  68. Anak macan jenenge gogor.
  69. Anak manuk jenenge piyik.
  70. Anak menjangan jenenge kompreng.
  71. Anak menthok jenenge minthi.
  72. Anak merak jenenge uncung.
  73. Anak nyambik jenenge slira.
  74. Anak pe jenenge genyong.
  75. Anak pleting jenenge jaringan.
  76. Anak pitik jenenge kuthuk.
  77. Anak sapi jenenge pedhet.
  78. Anak sembilang jenenge lenger.
  79. Anak singa jenenge dibal.
  80. Anak tawon jenenge gana.
  81. Anak tekek jenenge celolo.
  82. Anak tombro jenenge bokol.
  83. Anak tikus jenenge cindhil.
  84. Anak tuma jenenge kor.
  85. Anak tongkol jenenge cekethik/cengkik.
  86. Anak ula jenenge ucet/kisi.
  87. Anak urang jenenge grago.
  88. Anak wedhus jenenge cempe.
  89. Anak wader jenenge sriwet.
  90. Anak welut jenenge udhet.
  91. Anak wagal jenenge jendhil.
  92. Anak walang jenenge dhogol.
  93. Anak warak jenenge plencing.
  94. Anak yuyu jenenge beyes.
Daftar nama anak-anak hewan mungkin belum lengkap dan masih perlu diberi tambahan lagi. Silahkan, bagi yang mau menambahkan bisa melalui komentar di bawah ini.

Saturday, 22 July 2017

Makna Filosofi Gundul Gundhul Pacul Lagu Gaerah Jawa Tengah

Tembang Jawa ini konon diciptakan pada tahun 1400-an oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, ternyata mempunyai arti filosofis yang dalam..
GUNDUL = kehormatan tanpa mahkota..
PACUL = cangkul, yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat..
Jadi pacul adalah lambang dari kawula rendah, kebanyakan petani..
Gundul Pacul, artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pemimpin yang mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya..
Orang Jawa mengatakan pacul adalah "papat kang ucul."
Kemuliaan seseorang tergantung dari 4 (empat) hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya :

  1. Mata untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat/orang banyak.
  2. Telinga untuk mendengar nasehat.
  3. Hidung untuk mencium aroma kebaikan.
  4. Mulut untuk berkata adil.
  5. Jika 4 (empat) hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya..

Gembelengan artinya : besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya..
GUNDUL GUNDUL PACUL-CUL.
Jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 (empat) indera itu, mengakibatkan :

  • GEMBELENGAN (Congkak/sombong).
  • NYUNGGI-NYUNGGI WAKUL KUL. (Menjunjung amanah rakyat/orang banyak) dengan.. GEMBELENGAN (sombong hati).
  • WAKUL NGGLIMPANG. (Amanah/kekuasaan jatuh tak bisa dipertahankan).
  • SEGANE DADI SAK LATAR. (Berantakan sia-sia, tak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat).. Ternyata lagu yang bernada lucu dan gembira ini bermakna dalam dan mulia...

Rebo Pungkasan Galawi

Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan adalah hari Rabu di minggu terakhir di bulan Safar (dalam bahasa Jawa: Sapar). Masyarakat Jawa percaya bahwa bencana dan mala petaka banyak terjadi pada hari itu. Sehingga mereka perlu melakukan upaya pencegahan agar bencana dan mala petaka ini tidak terjadi pada mereka. Maka pada hari itu masyarakat banyak yang melaksanakan shalat Rebo Wekasan, mandi di sungai, mengunjungi sanak saudara, bahkan membuat serangkaian acara selama seharian yang kemudian ditutup dengan pertunjukkan wayang, dan lain sebagainya.

Setiap daerah memiliki cara dan keunikan masing-masing dalam pada saat Rebo Wekasan ini. Tak terkecuali di Tegal, acara ini pun menjadi sebuah tradisi yang masih dilaksanakan sampai sekarang ini. Masyarakat Tegal banyak yang mempercayai kalau pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar ini, akan banyak bencana dan mala petaka. Sehingga banyak dari mereka, baik itu anak-anak sampai orang dewasa melakukan berbagai upaya untuk terhindar dari bencana dan mala petaka tersebut.

Tradisi yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Tegal dalam menghadapi Rebo Wekasan, yaitu tradisi mencukur beberapa helai rambut dan tradisi membuat bubur merah dan putih, yang kemudian dibagikan ke tetangga mereka.

Tak ada bukti tertulis mengenai tradisi ini. Kapan tradisi mulai dilaksanakan dan siapa yang memulainya belum ada yang mengetahui. Akan tetapi, tradisi ini seakan sudah menjalar dalam masyarakat dan seakan jika tidak dilaksanakan, bencana dan mala petaka akan datang menimpa mereka.

Selain tradisi mencukur rambut dan juga membuat bubur, ada juga tradisi unik lain yang dilaksanakan di Tegal selama Rebo Wekasan. Tradisi itu dilaksanakan di dua kecamatan di Tegal, yaitu di Suradadi dan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya sama, yaitu untuk memperingati Rebo Wekasan, tetapi kegiatan yang dilaksanakan berbeda.

Desa Suradadi, kecamatan Suradadi, kabupaten Tegal, terletak di jalur antara Tegal dan Pemalang, sekitar 17 kilometer timur kota Tegal. Di desa ini, tradisi dalam memperingati Rebo Wekasan dilaksanakan cukup unik. Masyarakat Suradadi pada khususnya, melaksanakan Haul pada saat Rebo Wekasan. Haul diadakan sebagai suatu momentum untuk mengenang kembali para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan agam Islam di daerah tersebut.

Banyak pula yang mengatakan terutama di kalangan ulama, budaya Rebo Wekasan di desa Suradadi yang dilaksanakan dalam bentuk Haul adalah sebuah upaya dari para ulama setempat untuk menjadikan Rebo Wekasan lebih bermakna dan memiliki nilai yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Para ulama di desa Suradadi sangat prihatin dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat dalam momentum Rebo Wekasan ini. Masyarakat banyak yang menyimpang dari agama berkenaan dengan peringatan Rebo Wekasan. Sehingga para ulama ber-ijtihad untuk mengubah itu, yaitu dengan diadakannya Haul.

Haul di desa Suradadi dalam rangka Rebo Wekasan, telah dilaksanakan sejak tahun 1961, tepatnya pada tanggal 13 Agustus (27 Safar 1381 H). Biasanya dilaksanakan di pemakaman umum desa, tepatnya di sebelah selatan Masjid Jami Al-Kautsar atau sebelah selatan Pasar Suradadi. Pada saat Haul, masyarakat Suradadi dan sekitarnya akan berkumpul di pemakaman tersebut dan membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah meninggal dunia yang tentunya ulama-ulama itu adalah tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam penyebaran agama Islam. Setiap tahun, scara Haul tersebut selalu dipenuhi para pengunjung yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 20.000 pengunjung.

Adapun yang mengikuti acara tersebut tidak hanya masyakarat Suradadi, tetapi juga oleh masyarakat kabupaten dan kota Tegal yang lain, bahkan banyak pula pengunjung yang berasal dari Pemalang, Brebes, Pekalongan, Batang, Purbalingga, dan Purwokerto. Sehingga tak heran, pada saat pelaksanaanya, jalur Pantura tepatnya di jalan Pasar Suradadi, jalan akan sangat macet, yang disebabkan membludaknya pengunjung yang mengikuti Haul tersebut.

Sehingga tidak bisa dipungikiri bahwa tradisi Haul tersebut merupakan media efektif untuk persatuan umat, dakwah Islam, dan tentunya memobilisasi perekonamian umat di Suradadi.

Selain Haul, hal yang unik dalam peringatan Rebo Wekasan di Suradadi adalah adanya pasar dadakan yang ada sebelum, selama dan setelah Rebo Wekasan. Biasanya pasar ini ada setengah atau satu bulan sebelum hari H. Karena adanya pasar ini juga, keadaan di desa Suradadi menjadi sangat ramai yang disebabkan oleh banyaknya para pedagang serta para pengunjung yang mendatangi pasar dadakan tersebut. Sehingga pasar tersebut seakan menjadi arena bazar gratis bagi masyarakat.

Barang yang dijual dalam pasar tersebut berupa segala jenis makanan, mainan anak-anak, pakaian, sepatu, tas, serta kebutuhan-kebutuhan yang lain. Sehingga pasar ini seakan tidak bedanya dari pasar malam yang mengundang keramaian. Pedagang pun datang dari berbagai kota. Karena terdapat sebuah kepercayaan bahwa setelah berdagang pada acara Rebo Wekasan, dagangan mereka akan bertambah laris pada hari berikutnya. Ini menjadi sebuah tradisi budaya yang selalu ditunggu oleh masyarakat Suradadi, karena dapat dilihat dari betapa eksisnya tradisi ini hingga saat ini.

Berbeda di Suradadi, berbeda pula peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Lebaksiu adalah salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Tegal, yang terletak di jalur Tegal-Guci. Konon, berdasarkan cerita yang telah menyebar di masyarakat Lebaksiu bahwa peringatan Rebo Wekasan ini adalah untuk mengenang jejak Mbah Panggung, tokoh yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Akan tetapi, tidak ada sumber yang menyebutkan dengan jelas tentang sejarah dari peringatan Rebo Wekasan di Lebaksiu. Sehingga cerita Mbah Panggun-lah yang dianggap paling benar. Makam Mbah Panggung berada di puncak Bukit Sitanjung, dimana bukit ini terletak diantara dataran-dataran tinggi yang ada di Lebaksiu. Oleh karena itu, pusat acara Rebo Wekasan di Lebaksiu berada disekitar bukit tersebut, bahkan mencapai pinggir-pinggir jalan raya.

Jika di Suradadi Rebo Wekasan ini lebih dominan dengan acara agama dalam hal ini Haul, Rebo Wekasan di Lebaksiu didominasi dengan kegiatan jual-beli para pedagang yang hanya ada selama Rebo Wekasan. Biasanya para pedagang ini sudah membuka lapaknya setengah bulan sebelum hari H, sampai seminggu setelah hari H. Lapak yang ada pun bisa mencapai kiloan meter dari Bukit Sitanjung. Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, mainan anak-anak, aksesoris, lengkap ada di situ. Tidak hanya pedagangnya yang jumlahnya tak terhitung, pengunjung yang datang pun jumlahnya membludak.

Ribuan orang datang hanya sekedar untuk berkeliling untuk melihat-lihat dagangan, atau jalan-jalan menaiki bukit untuk menikmati pemandangan Bukit Sitanjung. Meskipun ada juga yang sengaja datang untuk berziarah ke makam Mbah Panggung.

Di masyarakat Lebaksiu, ada sebuah mitos tentang Rebo Wekasan. Setiap tahun, tepatnya ketika Rebo Wekasan, pasti akan ada pengunjung yang meninggal, karena dijadikan tumbal.

Terlepas benar apa tidak, tetapi memang ketika Rebo Wekasan, ada saja pengunjung yang meninggal. Ada yang hanyut di sungai, ada yang terjatuh, ada yang hilang, dan lain-lain. Meskipun begitu, Rebo Wekasan tetap menjadi sebuah event yang ditunggu oleh masyarakat Lebaksiu.

Daya tarik utama dari peringatan Rebo Wekasan ini adalah para pedagang yang datang dari berbagai kota yang membuka lapaknya di sekitar Bukit Sitanjung. Sehingga dapat dilihat, betapa cepatnya mobilasasi ekonomi masyarakat Lebaksiu pada saat peringatan Rebo Wekasan. Itu adalah salah satu tradisi yang ada di kabupaten Tegal yang berkenaan dengan Rebo Wekasan.